Ketika indonesia memasarkan pesona pantai tropis, taman nasional, dan desa wisata ke panggung dunia, ada satu pertanyaan yang terus membayangi: seberapa jauh negeri ini bisa mendorong kedatangan wisatawan tanpa mengorbankan keamanan_wisatawan dan daya dukung alam? Di satu sisi, pariwisata_massal memberi “mesin” pertumbuhan ekonomi: kerja musiman, usaha kecil, hingga pajak daerah. Di sisi lain, lonjakan kunjungan memadatkan ruang, menekan ekosistem, dan memperumit tata kelola keselamatan—mulai dari kemacetan yang menghambat ambulans, pengawasan laut yang terbatas, sampai perilaku pengunjung yang menguji batas aturan lokal. Dilema ini terasa nyata di destinasi mapan seperti Kuta dan Labuan Bajo, sekaligus di lokasi yang mendadak viral karena satu unggahan media sosial.
Di balik statistik kunjungan, ada cerita manusia yang lebih rapuh: pemandu yang harus menegur turis yang memaksa mendekat ke satwa liar, petugas pantai yang kewalahan karena ombak dan arus, serta warga lokal yang bersyukur pendapatan meningkat namun cemas ketika sampah menumpuk dan harga kebutuhan naik. Artikel ini mengikuti benang merah itu lewat kacamata pengelolaan_pariwisata—bagaimana kebijakan kuota, desain infrastruktur_wisata, edukasi pengunjung, dan praktik konservasi dapat menyeimbangkan pertumbuhan dengan rasa aman. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya citra destinasi, melainkan kualitas pengalaman_wisata itu sendiri.
- dilema utama: mengejar volume kunjungan vs menjaga keamanan_wisatawan dan daya dukung.
- pariwisata_massal mempercepat ekonomi, tetapi memperbesar risiko: keramaian, kecelakaan, sampah, dan konflik norma.
- Kasus nyata: TN Komodo, Kuta Bali, destinasi viral seperti taman bunga, serta Raja Ampat dengan tekanan konservasi.
- Peralihan strategi: dari kuantitas ke “quality tourism” lewat kuota, zonasi, tarif, dan penguatan layanan keselamatan.
- Kunci praktik: data kapasitas, desain infrastruktur_wisata, protokol darurat, serta edukasi wisatawan dan pelaku usaha.
Dilema pariwisata massal dan keamanan wisatawan di Indonesia: mengapa selalu muncul di destinasi populer
Dalam banyak destinasi_wisata di indonesia, pertumbuhan kunjungan bergerak seperti gelombang: awalnya pelan, lalu membesar, kemudian menghantam batas daya dukung. Pola ini sejalan dengan gagasan siklus kawasan wisata yang dikenal luas dalam kajian pariwisata: sebuah lokasi berangkat dari fase “ditemukan” oleh pelancong petualang, lalu masuk tahap keterlibatan warga, kemudian berkembang menjadi pasar yang lebih terpola dan massal. Ketika sebuah tempat memasuki fase perkembangan, pariwisata_massal sering dianggap kemenangan—namun justru di fase inilah risiko keselamatan membengkak karena sistem belum siap menahan beban.
Bayangkan tokoh fiktif bernama Raka, seorang pengelola tur harian di sebuah teluk kecil yang mendadak terkenal. Dalam tiga bulan, rute perahu yang tadinya dua trip sehari berubah menjadi delapan trip, dermaga kecil penuh antrean, dan pedagang dadakan muncul di bahu jalan. Raka mulai mendengar keluhan: tamu merasa “tidak aman” saat naik perahu tanpa jaket pelampung standar, atau cemas ketika jalur pulang macet sehingga mereka terlambat ke bandara. Ini bukan sekadar soal kenyamanan; keamanan_wisatawan melekat pada detail operasional yang sering tak terlihat di brosur.
Risiko keselamatan pada keramaian biasanya bersifat berantai. Kepadatan memperbesar peluang insiden kecil menjadi situasi gawat: orang terpeleset di jalur trekking yang licin, pengunjung pingsan karena panas dan dehidrasi, atau perahu saling serempet karena ruang sandar terbatas. Ketika jumlah pengunjung melebihi rancangan awal, petugas medis, ambulans, serta akses evakuasi menjadi “titik lemah” yang menentukan hasil akhir. Apalagi bila infrastruktur_wisata dibangun untuk volume rendah, lalu dipaksa melayani ribuan orang dalam satu hari.
Yang menarik, dilema ini tidak selalu muncul karena niat buruk, melainkan karena logika pasar. Investor melihat peluang, pelaku UMKM mengejar momentum, pemerintah daerah mengejar PAD, dan wisatawan mengejar harga murah serta sensasi “harus ke sana sebelum terlambat.” Tanpa rambu yang tegas, sistem bergerak ke arah yang paling mudah: menambah kapasitas tanpa menghitung dampak. Dalam konteks pengelolaan modern, masalahnya bukan apakah wisatawan datang, melainkan bagaimana arus itu diatur agar tidak menabrak keselamatan manusia dan batas ekologi.
Di sisi sosial, pengalaman_wisata yang diharapkan “otentik” bisa berubah menjadi konsumsi massal yang seragam. Ketika pengunjung membeli paket instan, mereka cenderung mengejar spot foto dan jadwal ketat. Perilaku ini sering meningkatkan konflik norma—misalnya berpakaian tidak sesuai di ruang sakral atau memaksa mendekat pada satwa liar demi konten. Konflik norma dapat memantik ketegangan, dan ketegangan adalah bibit risiko keselamatan, baik bagi wisatawan maupun warga.
Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan “apakah pariwisata massal harus ditolak,” melainkan “bagaimana membangun pagar pengaman sebelum gelombang besar datang.” Bagian berikutnya akan membedah apa yang terjadi saat pagar itu terlambat dipasang, melalui contoh kasus di destinasi yang sudah lama menjadi magnet wisata.

Pelajaran dari Bali dan TN Komodo: ketika pariwisata massal menguji batas pengelolaan pariwisata dan konservasi
Contoh paling mudah dibaca ada di Bali, terutama kawasan Kuta dan sekitarnya. Selama bertahun-tahun, orientasi kunjungan yang menekankan volume membuat kawasan ini menghadapi pekerjaan rumah yang berulang: kemacetan kronis, tumpukan sampah, dan gesekan norma yang kadang menyita perhatian publik. Dalam situasi seperti ini, keamanan_wisatawan tidak hanya berarti bebas dari kriminalitas, tetapi juga aman dari risiko operasional: keterlambatan layanan darurat karena jalan padat, kelelahan akibat kepanasan dalam antrean panjang, hingga kecelakaan lalu lintas ketika kendaraan campur aduk dengan pejalan kaki dan pesepeda.
Seiring waktu, Bali mulai menggeser narasi dari kuantitas ke kualitas. Perubahan ini masuk akal: ketika keramaian menjadi “produk” yang tidak diinginkan, kepuasan turun, reputasi ikut terpengaruh, dan pendapatan jangka panjang justru terancam. Dalam praktiknya, “quality tourism” berarti menata ulang indikator sukses: lama tinggal, pengeluaran yang lebih berkualitas, dan kepatuhan terhadap norma lokal. Ini bukan solusi instan, tetapi setidaknya memberi arah bagi pengelolaan_pariwisata agar keselamatan dan kenyamanan menjadi bagian dari desain, bukan reaksi setelah kejadian.
Berbeda konteks, tetapi sama tegangnya, adalah Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Di sini, risiko bukan hanya pada manusia, melainkan juga pada konservasi satwa dan ekosistem. Aktivitas pengunjung yang terlalu dekat dengan area sensitif—seperti lokasi sarang—dapat mengganggu perilaku reproduksi, memicu stres satwa, dan mengubah keseimbangan habitat. Ketika satwa liar terdorong beradaptasi pada kehadiran manusia secara ekstrem, keselamatan wisatawan pun ikut dipertaruhkan: interaksi yang dianggap “aman” karena sering terjadi bisa berujung insiden ketika perilaku satwa berubah mendadak.
Insiden perilaku wisatawan yang melampaui batas juga memberi gambaran tentang kompleksitas pengawasan. Kasus-kasus yang pernah ramai diberitakan—seperti penggunaan petasan di area sensitif atau kebakaran sabana di pulau-pulau kecil—menunjukkan bahwa satu tindakan sembrono dapat memicu kerusakan ekologis dan ancaman keselamatan yang luas. Api di sabana bukan hanya isu lingkungan; asap, jalur evakuasi, dan kepanikan pengunjung adalah bagian dari risiko keselamatan yang harus diantisipasi. Dalam wilayah kepulauan, keterbatasan sarana pemadam dan waktu tempuh bantuan membuat mitigasi harus lebih ketat sejak awal.
Pelajaran penting dari Komodo adalah konsep pembatasan jumlah pengunjung dan pengaturan aktivitas berbasis zona. Kebijakan kuota—meski sering memicu perdebatan soal harga dan akses—pada dasarnya adalah mekanisme untuk menjaga “ruang bernapas” ekosistem sekaligus mengendalikan kerumunan. Ketika jumlah wisatawan lebih terkendali, pemandu bisa melakukan briefing dengan serius, ranger dapat mengawasi jalur, dan penanganan darurat menjadi lebih realistis. Pada titik ini, pengalaman_wisata justru cenderung naik karena pengunjung tidak merasa “desak-desakan” dan mendapatkan interpretasi yang lebih bermakna.
Namun, pembatasan saja tidak cukup jika infrastruktur_wisata dan standar layanan tidak mengikuti. Dermaga, jalur trekking, rambu keselamatan, ketersediaan air minum, titik pertolongan pertama, hingga prosedur komunikasi antarpelaku harus diselaraskan. Bali dan Komodo sama-sama memperlihatkan bahwa destinasi yang terkenal membutuhkan disiplin tata kelola yang lebih besar—semakin populer sebuah tempat, semakin mahal biaya untuk tetap aman dan lestari. Bagian berikutnya akan menunjukkan bagaimana fenomena viral menciptakan “destinasi dadakan” yang sering kali tidak punya waktu untuk membangun disiplin tersebut.
Di banyak daerah, penguatan standar operasional kini ikut dipengaruhi percakapan publik di media sosial. Satu video antrean panjang atau insiden kecil bisa menjadi isu nasional dalam hitungan jam, menekan pemerintah dan pelaku usaha untuk berbenah lebih cepat.
Destinasi viral dan pariwisata massal “dadakan”: risiko keramaian, keselamatan, dan pengalaman wisata yang runtuh
Era digital membuat sebuah lokasi berubah status dalam semalam: dari kebun biasa menjadi magnet wisata. Fenomena ini menciptakan dilema unik karena lonjakan kunjungan terjadi sebelum sistem sempat dibangun. Jika destinasi mapan seperti Bali memiliki pengalaman panjang dalam menambal kekurangan, destinasi viral sering memulai dari nol: belum ada jalur keluar-masuk yang aman, belum ada petugas terlatih, dan belum ada mekanisme pengendalian keramaian.
Kasus taman bunga di Yogyakarta yang sempat membludak menjadi contoh klasik. Ketika hamparan bunga yang indah menyebar lewat unggahan, arus pengunjung melonjak hingga ribuan orang per hari. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: bunga adalah atraksi yang rapuh. Tanpa pagar pembatas, jalur pijak, serta petugas yang cukup untuk mengarahkan, pengunjung menginjak area tanam demi mendapat sudut foto terbaik. Dalam hitungan hari, atraksi rusak, pemilik kecewa, wisatawan yang datang belakangan merasa tertipu, dan warga sekitar kehilangan potensi pendapatan jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kerusakan fisik atraksi adalah “risiko bisnis,” tetapi juga berkelindan dengan keselamatan: jalur yang berubah becek dan licin meningkatkan potensi jatuh, desak-desakan memicu pingsan, serta konflik kecil antarwisatawan bisa terjadi ketika semua berebut ruang.
Di lapangan, karakter pengunjung destinasi viral sering berbeda. Banyak yang mengejar kunjungan murah dan cepat, berorientasi pada konten, lalu pindah ke tempat lain. Pola ini membuat edukasi sulit menempel karena interaksi singkat. Akibatnya, aturan dianggap mengganggu, bukan melindungi. Pada titik ini, pengelolaan_pariwisata harus kreatif: pesan keselamatan dan etika tidak cukup ditempel di papan, melainkan perlu dikemas sebagai bagian dari pengalaman—misalnya briefing singkat yang wajib sebelum masuk, jalur foto yang “instagrammable” namun aman, serta insentif bagi pengunjung yang patuh.
Untuk mengurangi risiko, destinasi viral perlu memulai dari logika dasar: memisahkan arus manusia. Satu jalur masuk dan keluar yang jelas mengurangi tabrakan massa. Pembatas fisik—tali, pagar rendah, atau tanaman pengarah—membuat orang tidak “mencari jalan sendiri.” Lalu, kapasitas parkir harus realistis; jika parkir tumpah ke jalan sempit desa, maka risiko kecelakaan meningkat, warga terganggu, dan ambulans sulit masuk jika terjadi kondisi darurat. Dengan kata lain, infrastruktur_wisata tidak harus megah, tetapi harus tepat guna.
Di banyak daerah pada 2026, pemerintah kabupaten/kota mulai mendorong sistem tiket berbasis jam (time slot) untuk spot yang rawan membludak, terutama saat akhir pekan dan libur panjang. Time slot tidak hanya mengendalikan jumlah orang, tetapi juga membantu pelaku usaha memprediksi kebutuhan petugas, air bersih, toilet, dan layanan kesehatan. Bila digabungkan dengan kanal informasi real-time (misalnya papan digital sederhana di pintu masuk atau pengumuman di akun resmi), wisatawan dapat memilih waktu kunjungan yang lebih aman dan nyaman.
Raka—pengelola tur fiktif tadi—akhirnya menerapkan “aturan kecil” yang berdampak besar: setiap tamu wajib memakai pelampung, maksimal 10 orang per perahu, dan ada briefing dua menit tentang perilaku aman serta etika lingkungan. Ia juga membuat titik foto resmi dengan pijakan kayu agar pengunjung tidak menginjak vegetasi pantai. Pendapatannya tidak turun; justru ulasan membaik karena tamu merasa dilayani secara profesional. Pesan intinya jelas: keamanan bukan penghambat, melainkan fondasi reputasi destinasi. Setelah memahami tantangan destinasi viral, kita perlu melihat konteks yang lebih sensitif—kawasan konservasi laut seperti Raja Ampat—di mana satu kesalahan bisa berdampak puluhan tahun.
Raja Ampat dan konservasi sebagai syarat keamanan wisatawan: mengelola destinasi premium tanpa kehilangan jiwa
Raja Ampat sering disebut sebagai surga bawah laut: gugusan karst, air sebening kaca, dan keanekaragaman hayati yang menempatkannya dalam peta selam dunia. Namun status “premium” juga berarti arus kunjungan terus meningkat setelah periode pemulihan pascapandemi. Sebelum pandemi, kunjungan wisatawan mancanegara dilaporkan mencapai puluhan ribu per tahun, dan setelah perjalanan domestik kembali menggeliat, tekanan datang dari dua arah: wisatawan lokal bertambah, sementara pasar internasional pulih. Dalam konteks ini, dilema Raja Ampat bukan hanya jumlah orang, melainkan pola aktivitas di laut yang sangat sensitif.
Kerusakan terumbu karang sering dimulai dari hal yang terlihat sepele: jangkar yang dijatuhkan sembarangan, sirip penyelam yang menyenggol karang, atau wisatawan yang menyentuh biota karena penasaran. Ada pula perilaku membawa pulang bintang laut atau kerang sebagai “oleh-oleh,” padahal itu bagian dari ekosistem. Dampak ekologisnya jelas, tetapi kaitannya dengan keamanan_wisatawan sering luput: karang yang rusak mengubah struktur dasar laut, mempengaruhi arus mikro, dan dapat meningkatkan risiko bagi penyelam pemula. Selain itu, ketika ekosistem menurun, kualitas pengalaman menyelam merosot, wisatawan kecewa, dan tekanan untuk “mencari spot baru” meningkat—mendorong aktivitas ke area yang lebih jauh dan lebih berbahaya karena kondisi cuaca serta keterbatasan SAR.
Beberapa kebijakan konservasi yang diterapkan atau diuji coba di Raja Ampat dapat dibaca sebagai strategi keselamatan juga. Pembatasan kapal dan zonasi membantu mengurangi kepadatan di spot populer seperti Pianemo, sehingga perahu tidak saling berebut ruang dan risiko tabrakan menurun. Tiket masuk yang lebih tinggi bagi wisatawan asing sering diperdebatkan, namun fungsinya dapat menjadi filter agar arus lebih terkendali dan biaya konservasi serta pengawasan memiliki sumber pendanaan. Di banyak destinasi premium dunia, “harga” memang menjadi instrumen kebijakan untuk menjaga mutu pengalaman_wisata dan ketahanan lingkungan.
Di lapangan, keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada manusia: pemandu, operator kapal, pemilik homestay, dan aparat setempat. Pemberdayaan masyarakat lokal bukan sekadar jargon; itu sistem pengawasan paling efektif. Ketika Mama Yosephina (tokoh yang mewakili banyak pemilik homestay lokal) memperoleh pendapatan dari tamu yang tinggal lebih lama, ia memiliki alasan kuat untuk menegakkan aturan: melarang buang sampah ke laut, memastikan tamu mengikuti briefing, dan mengingatkan soal penggunaan produk yang ramah ekosistem. Ini contoh bagaimana ekonomi dapat diselaraskan dengan konservasi, bukan dipertentangkan.
Meski begitu, tantangan terbesar Raja Ampat sering datang dari “overdevelopment”: dorongan pembangunan resort besar, perluasan dermaga tanpa studi dampak, atau aktivitas wisata yang melampaui kapasitas pengelolaan. Jika investasi tidak diatur, dampaknya ganda: lingkungan tertekan dan standar keselamatan menjadi timpang karena sistem darurat tidak berkembang secepat kapasitas hunian. Di wilayah kepulauan yang jauh, pertolongan medis dan evakuasi sangat bergantung pada cuaca, bahan bakar, dan koordinasi radio. Karena itu, destinasi premium membutuhkan protokol yang lebih disiplin: manifest penumpang kapal, peralatan keselamatan laut, pemeriksaan cuaca sebelum berangkat, serta jalur komunikasi yang jelas saat terjadi insiden.
Untuk menautkan konservasi dengan keselamatan, banyak operator kini mewajibkan edukasi singkat sebelum aktivitas: cara buoyancy yang benar bagi penyelam, larangan menyentuh biota, dan tata cara naik-turun perahu agar tidak tergelincir. Edukasi seperti ini tampak sederhana, tetapi sangat menentukan. Pada akhirnya, Raja Ampat mengajarkan prinsip penting: menjaga alam bukan biaya tambahan, melainkan prasyarat agar destinasi tetap aman dan bernilai. Setelah melihat contoh premium, langkah berikutnya adalah membumikan semua pelajaran ini ke dalam alat kerja: indikator, tabel risiko, dan pilihan kebijakan yang bisa diterapkan lintas destinasi di Indonesia.
Di ruang publik, diskusi soal “premium” sering berhenti pada harga. Padahal, ukuran premium yang paling nyata adalah seberapa baik sebuah tempat melindungi pengunjung, warga, dan ekosistemnya secara bersamaan.
Strategi pengelolaan pariwisata untuk menyeimbangkan pariwisata massal dan keamanan wisatawan di Indonesia
Menyeimbangkan pariwisata_massal dengan keamanan_wisatawan membutuhkan pendekatan yang dapat diukur, bukan sekadar imbauan. Banyak daerah mulai mengadopsi cara berpikir “kapasitas” dan “batas perubahan yang dapat diterima”: bukan hanya menghitung berapa orang yang bisa masuk, tetapi perubahan apa yang masih bisa ditoleransi tanpa merusak lingkungan dan tanpa menurunkan keselamatan. Dalam praktik, ini berarti data dipakai sebagai kompas, sementara kebijakan menjadi rem dan setir.
Di bawah ini contoh kerangka keputusan yang dapat dipakai pengelola destinasi_wisata—mulai dari pantai padat, taman nasional, hingga lokasi viral. Tabel ini memetakan hubungan antara pemicu keramaian, risiko, dan opsi mitigasi yang realistis.
Situasi di destinasi |
Risiko utama bagi keamanan_wisatawan |
Dampak pada konservasi/lingkungan |
Opsi pengelolaan_pariwisata |
|---|---|---|---|
Keramaian di akses masuk (jalan sempit, parkir tumpah) |
Kecelakaan lalu lintas, ambulans terhambat, kepanikan saat evakuasi |
Polusi udara, kebisingan, tekanan pada permukiman |
Park & ride, time slot tiket, jalur pejalan kaki, manajemen arus satu arah |
Aktivitas laut padat (perahu, snorkeling, diving) |
Tabrakan kapal, tenggelam, hipotermia, keterlambatan SAR |
Jangkar merusak karang, sampah plastik, stres biota |
Zonasi tambat, mooring buoy, standar pelampung, briefing wajib, batas cuaca operasi |
Interaksi dekat satwa liar (trekking, safari) |
Gigitan/serangan, terpeleset saat mengejar spot foto |
Gangguan reproduksi, perubahan perilaku satwa |
Jarak aman, pemandu bersertifikat, kuota harian, jalur berpagar alami, sanksi tegas |
Destinasi viral tanpa kesiapan infrastruktur_wisata |
Desak-desakan, pingsan, jatuh, konflik antar pengunjung |
Atraksi rusak (tanaman terinjak), erosi, sampah |
Jalur pijak, pagar pembatas, petugas marshal, titik foto resmi, kapasitas maksimum |
Standar keselamatan sebagai bagian dari desain pengalaman wisata
Keselamatan yang efektif terasa “tidak mengganggu” karena sudah menyatu dengan pengalaman. Contohnya, jalur trekking yang memiliki pijakan antiselip dan rambu jarak tempuh membuat wisatawan mengatur napas, membawa air yang cukup, dan tidak memaksakan diri. Demikian juga di laut: jaket pelampung yang tersedia dalam berbagai ukuran, briefing singkat yang jelas, dan daftar penumpang yang rapi adalah detail yang membentuk rasa aman. Ketika wisatawan merasa aman, mereka cenderung tinggal lebih lama, lebih menghargai aturan, dan mengeluarkan belanja yang lebih berkualitas—selaras dengan pergeseran dari kuantitas ke mutu.
Mengurangi risiko tanpa mematikan ekonomi lokal
Kekhawatiran umum adalah pembatasan akan “membunuh” pendapatan warga. Di lapangan, sering terjadi sebaliknya jika pengaturan dilakukan cerdas: pendapatan bisa stabil meski jumlah orang turun, karena nilai belanja per orang dan kualitas layanan meningkat. Misalnya, operator tur bisa menjual paket interpretasi budaya dan alam yang lebih mendalam, bukan sekadar transportasi. Di Bali, konsep harmoni manusia-alam-Tuhan yang dikenal luas dalam kearifan lokal dapat menjadi kerangka narasi yang membuat wisatawan paham mengapa aturan ada. Narasi yang kuat mengubah kepatuhan dari kewajiban menjadi bagian dari pengalaman bermakna.
Daftar langkah praktis yang bisa diterapkan lintas destinasi
- Audit kapasitas mingguan pada musim puncak: parkir, toilet, air, petugas, dan jalur evakuasi.
- Briefing wajib 1–3 menit sebelum aktivitas berisiko (laut, satwa liar, jalur curam), dengan bahasa yang mudah.
- Sertifikasi pemandu dan pelatihan P3K dasar, termasuk prosedur rujukan medis terdekat.
- Zonasi aktivitas untuk melindungi area sensitif dan mengatur sebaran pengunjung agar tidak menumpuk di satu titik.
- Penegakan aturan yang konsisten: sanksi untuk pelanggaran berbahaya, bukan sekadar teguran yang mudah diabaikan.
- Komunikasi real-time saat kondisi cuaca buruk atau kapasitas penuh, agar wisatawan dapat mengubah rencana tanpa frustrasi.
Jika strategi di atas dijalankan, dilema antara pertumbuhan dan keselamatan tidak hilang sepenuhnya, tetapi menjadi dapat dikelola. Inti pelajarannya sederhana: destinasi yang aman dan lestari bukan yang paling ramai, melainkan yang paling siap mengatur arus manusia, membangun infrastruktur_wisata yang tepat, dan menjadikan konservasi sebagai jantung dari pengelolaan_pariwisata—karena pada akhirnya, itulah yang menjaga nilai pengalaman_wisata tetap hidup.
Catatan kredit: gagasan tentang siklus kawasan wisata, dinamika pariwisata massal, serta contoh kasus yang dibahas diolah ulang dari kajian akademik dan diskusi keilmuan yang pernah digarap oleh Adellia Putri Rachmasari, Muhammad Ali Syahadah, dan Sulthan Aflahuddin (Divisi Riset dan Keilmuan HMGP UGM, 2022), serta berbagai sumber pemberitaan dan penelitian terkait destinasi di Indonesia.